ARUSBAWAH.CO - Banyak cerita soal bekerja sebagai Relawan Pemadam Kebakaran (Damkar) Samarinda
Sedih, lucu, marah, capek, bisa saja dirasakan para relawan.
Arusbawah.co coba ambil cerita mereka yang tergabung dalam Wild Animal Rescue Relawan Damkar Posko 7 Samarinda.
Salah satu relawan di instansi itu, Akmaludin bercerita banyak soal kisah pekerjaan mereka.
Termasuk soal kisah penanganan hewan buas yang pernah dialami, bulai dari buaya hingga beruang madu.
Diceritakannya, selama bertugas sebagai penyelamat hewan yang ada di Samarinda ini dirinya dipercaya untuk menangani jenis hewan peliharaan maupun hewan buas yang berkeliaran di rumah warga.
"Hampir semua dinas itu mahir untuk masalah animal rescue terutama ular, monyet dan lain-lain, hanya kebetulan saya dipercaya untuk penanganannya, bahwa binatang yang dilindungi ini aman dan tidak disakiti atau tidak salah arah," ucapnya.
Dengan peralatan yang dia ciptakan dan kembangkan sendiri memudahkan dirinya untuk mengamankan hewan yang akan dia tangkap.
"Peralatan yang saya pakai persis seperti penangkapan buaya kemarin yaitu tali, stick jerat, stick hoop dan stick jepit. Untuk stick jepit ini dikhususkan untuk menangkap jenis tipe king cobra karena jenisnya yang agresif," ujarnya.
Dia juga bercerita saat menangkap ular dengan menggunakan stick jepit ini dipersulit dengan medan yang sempit dikarenakan mahluk tersebut terkadang bersembunyi, seperti misalnya bersembunyi dalam kandang milik warga.
"Pintu kandangnya waktu itu 40 cm persegi dan berada di pojok kandang, jadi kami masuk harus merangkak sedapatnya yang penting kami menemukan posisi kepala ular itu kami jerat, karena untuk jenis ular berukuran 3 meter lebih itu alat kami pasti sudah rusak," ungkapnya.
Bagaimanapun kondisi serta peralatan yang Akmaludin hadapi dia menyampaikan agar selalu waspada karena dirinya selalu berprinsip semua mahluk itu berbahaya yang menuntutnya selalu berhati-hati dalam setiap pengamanan hewan itu.
"Tidak ada hewan yang saya hadapi itu ringan, semua itu berbahaya serta berisiko terhadap nyawa kita. Meski hanya sekedar sarang tawon itu yang dianggap mudah namun kenyataanya tidak ada yang berani untuk mengeksekusinya, dan seperti ular berbeda-beda karakternya. Kobra itu mematuk, jenis king itu menyemburkan racun, sedangkan untuk piton itu melilit tubuh mangsanya," tegasnya.
Ditanya tentang cerita-cerita unik itu yang paling berkesan selain menghadapi hewan- hewan itu, dirinya juga pernah menghadapi beruang madu yang diduga peliharaan milik salah satu warga yang lepas.
"Beruang di Lubuk Sawah waktu itu, setelah mengetahuinya kami koordinasi meminta masukan dari BKSDA untuk penanganan beruang madu. Kecurigaannya hewan peliharaan yang lepas milik salah satu warga yang tidak jauh dari lokasi pantauan warga pada waktu itu," katanya.
"Setelah kami cari jejak yang dia tinggalkan pada pohon dan dedaunan, bersama dengan relawan lain kami berusaha mencari namun kehilangan jejaknya hingga sampai hari ini tidak diketahui keberadaanya," tambahnya.
Ia juga ungkap soal dilema dalam menjalani pekerjaan.
Yakni soal membunuh mahluk hewan liar yang bertentagan dengan dirinya. Akan tetapi, di sisi lain jika mahluk itu dia lepaskan ditakutkan akan menyerang warga
"Takut saya kalau hewan itu dibunuh karena bertentangan dengan hati nurani saya meskipun hewan ini berbahaya, ya bingung juga kalau dilepas takut ganggu warga jadi sementara king kobra yang saya temukan beberapa waktu lalu saya amankan di posko 7, kalau hewan lain seperti buaya waktu itu dititip di BKSDA," ungkapnya.
"Karena biasanya kalau hewan buas ini akan kami lepas jika mereka sehat dan siap hidup alam liar jauh dari pemukiman warga, dan beberapa waktu lalu Panji sang penyelamat ular itu kemari untuk lihat hasil tangkapan kami dan dia bawa ular untuk dia pelihara," pungkasnya. (dil)




