Arus Publik

Kedua di Indonesia Timur, RSUD AW Sjahranie Kini Layani Transplantasi Ginjal! Fasilitas Strata Paripurna

Layanan kedua di wilayah Indonesia Timur

Senin, 20 Oktober 2025 21:30

RSUD - Potret Gedung RSUD AWS Samarinda/IST

ARUSBAWAH.CO -  Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda kini menjadi rumah sakit kedua di Indonesia Timur yang melaksanakan layanan transplantasi ginjal.

Layanan itu menjadi terobosan baru bagi pasien gagal ginjal kronik di Kalimantan Timur, yang selama ini harus merujuk ke rumah sakit di luar provinsi.

dr. Astried, Ketua Tim Transplantasi Ginjal RSUD AWS, menjelaskan, rumah sakit AWS kini diplot sebagai fasilitas berstrata paripurna oleh Kementerian Kesehatan untuk menjalankan layanan transplantasi ginjal pertama di Kalimantan.

Artinya, RSUD AWS dapat menangani pasien urologi dan nefrologi secara mandiri, mulai dari skrining, identifikasi, hingga terapi pengganti ginjal, termasuk hemodialisis, peritoneal dialysis, dan melakukan transplantasi ginjal.

Transplantasi ginjal itu terapi pilihan terbaik bagi pasien gagal ginjal stadium akhir,” kata dr. Astried saat jumpa pers dengan awak media di RSUD AWS pada, Senin (20/10/2025).

Prosedur Donor Hidup dan Risiko Pasca Transplantasi

Ia menjelaskan, ginjal manusia punya dua, tetapi seseorang tetap bisa hidup normal dengan satu ginjal.

Hal itu menurut Astried, memungkinkan donor hidup memberikan satu ginjalnya untuk penerima, selama skrining memastikan organ dalam kondisi optimal.

Salah satu masalah yang dihadapi rumah sakit, lanjut dr. Astried, adalah biaya dan ketersediaan donor.

“Biaya skrining awal saja perkiraan sekitar Rp25 juta, itu baru periksa darah dan lain-lain. Kalau sampai rumah sakit besar itu, total bisa Rp400 sampai Rp800 juta,” ujarnya.

Namun kata Astried, bagi pasien yang memenuhi syarat dan ketentuan, BPJS bisa menanggung biaya operasi, termasuk pendonor dan penerima, sejak masuk rumah sakit hingga kontrol pasca operasi.

Proses persiapan transplantasi ginjal melibatkan advokasi legal untuk memastikan donor adalah orang dewasa bukan anak-anak, mampu membuat keputusan mandiri, dan memiliki ikatan keluarga yang sah jika donor terkait.

dr. Astried juga menjelaskan risiko dan prosedur usai transplantasi ginjal dilakukan.

Pasien tetap harus kontrol ketat, karena reaksi penolakan oleh tubuh atau rejeksi bisa terjadi jika obat tidak diminum oleh pendonor dan penerima.

Ginjal yang baru akan disambungkan ke pembuluh darah penerima dan saluran kencing, sementara ginjal lama tetap ada.

Dengan transplantasi, kualitas hidup pasien disebut bisa meningkat drastis, termasuk bebas makan, perjalanan jauh, dan perbaikan kondisi fisik.

 

Sistem Transplantasi Terintegrasi untuk Mencegah Perdagangan Organ

Untuk menjaga transparansi dan mencegah perdagangan organ ilegal, RSUD AWS kini bekerja sama dengan Komite Transplantasi Nasional (KTN).

Sistem ini memungkinkan pendonor terdaftar secara sukarela melalui kartu transplantasi, sehingga data donor dan penerima dapat dipantau secara simultan dan online.

“Di Indonesia, donor masih berasal dari pendonor hidup, biasanya saudara dekat. Non-related atau tanpa hubungan darah, tergantung kebijakan rumah sakit masing-masing. Semua tetap harus melalui skrining ketat,” ujar dr. Astried.

Prestasi dan Dukungan Pemerintah

Sementara itu, Direktur Utama RSUD AWS dr. Indah menambahkan, transplantasi ginjal ini merupakan layanan kedua di wilayah Indonesia Timur setelah RSUP Wahidin Sudirohusodo, Makassar.

“Ini prestasi bukan hanya untuk Kaltim tapi seluruh Kalimantan. Program ini mendukung pemerintah mencetak generasi emas dengan sumber daya manusia sehat dan tangguh,” jelasnya.

KONFERENSI PERS - Direktur Utama RSUD AWS dr. Indah (kanan)/ Arusbawah.co

 

Pelaksanaan transplantasi ginjal di RSUD AWS dibimbing oleh tim nasional dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Proses persiapan telah berjalan selama sekitar satu tahun mulai dari 2024, dengan harapan akhir tahun 2025 ini layanan bisa dijalankan secara operasional.

dr. Indah menekankan, transplantasi ginjal adalah opsi terakhir bagi pasien yang sudah tidak mampu menjalani cuci darah.

“Selain memberikan pelayanan terbaik, program ini juga memperpendek jarak keluarga donor dan penerima, serta meningkatkan umur pasien penerima,” pungkasnya.

(wan)

 

 

Tag

MORE