ARUSBAWAH.CO - Minggu (23/11/2025), ketika hampir pasti pekerja kantoran di Kalimantan Timur (Kaltim) meluangkan waktu santai sejenak dari pekerjaan rutin, satu kabar politik berhembus kencang di kancah politik Bumi Etam.
Hari Minggu itu, satu partai yang meraih peringkat kedua dalam hasil Pemilu 2024, memutuskan tak libur.
Alih-alih santai, kader seluruhnya berkumpul, berkemeja putih, dikomandoi unsur kepala daerah.
Partai itu adalah Gerindra, peraih 307.259 suara pada Pemilu 2024.
Partai dengan logo kepala burung garuda berwarna merah itu melaksanakan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) di Hotel Puri Senyiur Samarinda.
Ketua DPD-nya tentu saja datang, Seno Aji yang juga merupakan Wakil Gubernur Kaltim.
Kabar mengejutkan kemudian muncul, bukan soal event Rakerda-nya, melainkan sosok-sosok yang datang di Rakerda tersebut.
Ramai-ramai Gabung Gerindra
Hingga berita ini terbit, nama-nama yang akan disebut, terpantau tak berikan respon menolak isu.
Mereka memilih menjawab dengan gaya politik, tak berikan respon, atau cara-cara lainnya.
Adalah Bupati Kukar Aulia Rahman Basri, Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Mudyat Noor, serta Bupati Mahakam Ulu Angela Idang Belawan yang jadi perhatian media.
Tambah pula Ketua DPRD Berau, Madri Pani.
Tokoh-tokoh itu, disebut pindah haluan partai.
Dari baju lama, ke baju baru, kemeja putih khas Gerindra.
Aulia Rahman Basri diketahui adalah kader PDI Perjuangan. Ia terpilih dalam PSU Kukar berpasangan dengan Rendi Solihin, memimpin Kabupaten Kukar.
Mudyat Noor sebelumnya NasDem, dan kini bersama Abdul Waris Muin sedang bekerja menentukan arah kebijakan di PPU.
Angela Idang Belawan, putri Bonifasius Belawan Geh diketahui sebelumnya baru kali ini terjun ke dunia politik.
Dalam proses Pilkada lalu, pasangan Angela-Suhuk diusungh tiga partai, PKB, PAN dan Demokrat. Gerindra tak masuk dalam tiga partai pengusung itu.
- Soal Kabar Ramai-ramai Kepala Daerah Pindah ke Partai Gerindra, Seno Aji: Itu Inisiatif Mereka
- Didik Agung Sebut Aulia Rahman Belum Ada Ngomong! Respon soal Perpindahan Bupati Kukar dari PDIP ke Gerindra
- Kabar Terbaru di Hari Minggu! Aulia Rahman Pakai Kemeja Putih Hadiri Rakerda, Jadi Kader Gerindra?
Jawaban Seno Aji Soal Kepindahan Tiga Kepala Daerah
Saat ditemui wartawan Arusbawah.co di Studio TVRI Kaltim pada, Senin (24/11/2025) sore, Seno Aji membantah bahwa partai Gerindra yang menjemput atau menarik para kepala daerah tersebut.
“Oh, enggak. Itu inisiatif mereka. Di Kabupaten Kutai Kartanegara ada Pak Bupati. Kemudian di Penajam juga Pak Bupati. Mereka berinisiatif untuk bergabung,” ujar Seno.
Seno mengatakan nama-nama yang telah bergabung ke partai Gerindra akan segera diteruskan ke Dewan Pimpinan Pusat (DPP).
“Dan tentu saja kita akan sampaikan ini ke DPP, dan kita akan cek kembali keinginan mereka bergabung dengan Gerindra,” tambahnya.
Lebih lanjut, ketika wartawan bertanya apakah ada arahan dari Ketua Umum sekaligus Presiden RI Prabowo Subianto agar partai Gerindra menjadi partai terkuat di Kaltim, jawaban Seno singkat namun padat.
“Ya, itu bagian dari strategi partai ya,” ujar Seno singkat.
Kemudian, saat wartawan kembali menekan dengan pertanyaan, apakah kepindahan ini berkaitan dengan Pilkada 2029? Seno Aji memilih berhenti bicara panjang.
“Ini kan Pilkada masih jauh. Ya, itu nanti lah kita bicarakan," lanjut Seno.
Terakhir, Seno menyebut kini suara Gerindra di daerah-daerah di Kaltim saat ini berada dalam tren naik.
“Bagus sekali. Sangat bagus sekali,” tutupnya.
Partai Bukan Gerindra Justru Komentar
Belum ada jawaban mengiyakan langsung dari ketiga tokoh tersebut (Aulia Rahman, Mudyat, Angela), respon soal ini ini malah berhembus dari pihak partai.
PDI Perjuangan misalnya, hanya 5 jam setelah isu pindah partai ini muncul pada Minggu (23/11/2025) lalu, sudah langsung memberikan komentar melalui pengurus.
Pengurus PDI Perjuangan Kutai Kartanegara juga merupakan Anggota DPRD Kaltim, Didik Agung Eko Wahono menegaskan bahwa isu perpindahan Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri ke Partai Gerindra belum dapat dipastikan kebenarannya.
Ia menilai hingga saat ini belum ada komunikasi langsung dari Bupati Kukar terkait kabar tersebut.
“Saya sendiri belum bisa mengamini. Secara pribadi belum bisa mengatakan iya, karena beliau belum ngomong sama saya. Kalau beliau ngomong, baru saya bisa menyatakan iya,” ujarnya Didik Agung kepada awak media pada Minggu (23/11/2025) malam.
Ia menyampaikan bahwa Bupati Aulia Rahman Basri merupakan sahabat dekat sekaligus kader terbaik PDI Perjuangan di Kutai Kartanegara.
Menurutnya, sejak sebelum menjabat bupati, Aulia telah menunjukkan komitmen kuat terhadap partai.
“Beliau ini dulu saat pertama kali ingin bergabung dengan kita juga datang, ngobrol, berkomunikasi. Sampai sekarang pun, selama saya tahu, beliau masih menjalankan program-program PDI Perjuangan,” ujarnya.
Didik Agung yang merupakan Anggota DPRD Kaltim, Fraksi PDI Perjuangan tersebut menambahkan, Aulia bersama struktur partai di tingkat kabupaten turut memainkan peran penting dalam berbagai agenda politik, termasuk pemenangan Pileg 2024 dan pengawalan Pilkada Kutai Kartanegara.
“Mas Bupati Kukar ini bekerja bersama-sama secara politik mendesain program, termasuk dalam pemenangan Pilkada Pak Edi Damansah waktu itu, serta mendukung Ketua DPC PDI Perjuangan Kutai Kartanegara. Termasuk dalam PSU kemarin, beliau masih aktif bekerja untuk PDI Perjuangan,” ungkapnya.
Ia menilai bahwa komitmen kuat tersebut menjadi alasan dirinya meragukan isu perpindahan politik yang beredar. Menurutnya, seorang kader terbaik tidak akan mudah berpindah haluan.
“Kader yang baik itu tidak mungkin bergeser. Kalau bergeser itu biasanya kader yang tidak baik. Dan Mas Bupati Aulia adalah kader yang luar biasa,” tegasnya.
NasDem juga demikian.
“Kaka Mudyat hadir sebagai tamu undangan saja. Tadi pagi kaka Mudyat juga sudah info terkait hadir di acara Gerindra tersebut,” tegas Sekretaris DPW Partai NasDem Kaltim, Fatimah Asyari melansir Tribunkaltim.co
Fatimah juga menegaskan Rakornas NasDem dan pertemuan bersama Ketua Umum, Surya Paloh pada tanggal 17 November 2025 lalu di Jakarta sempat dihadiri Mudyat Noor.
Artinya, jelas bahwa Bupati PPU ini masih bagian dari DPW Partai NasDem Kaltim.
“Pasti nggak (soal bergabung ke Gerindra). Tolong luruskan kalo ada berita spekulasi itu,” lanjutnya.
Yang sudah mulai terang pindah hanyalah Madri Pani.
Pria yang sebelumnya merupakan kader Nasdem itu sudah tak bisa lagi menyembunyikan fakta bahwa ia kini adalah kader dari partainya Presiden RI, Prabowo Subianto.
"Kita semua tetap bersaudara," sinyalnya.
Gerindra Leading, Punya 8 Kader di Posisi Kepala Daerah
Benar atau tidaknya tiga tokoh di Kaltim menjadi bagian, bisa dipastikan ketika ketiganya sudah benar-benar menunjukkan bukti fisik KTA, atau minimal terdaftar di struktur kepengurusan.
Meski demikin, jika isu berhembus ini benar adanya, kaki-kaki Gerindra di unsur kepala daerah semakin dominan.
Mereka menjadi satu-satunya partai, dimana ada lebih 5 kader menjadi kepala daerah, apakah itu wali kota, wakil wali kota, bupati atau pun wakil bupati.
Distribusi Kepala Daerah Berdasarkan Partai (Setelah Isu Pindah Partai Berhembus)
Provinsi Kaltim
Samarinda
- Gerindra: Andi Harun
- NasDem: Saefuddin Zuhri
Balikpapan
- Golkar: Rahmat Mas’ud
- Gerindra: Bagus Susetyo
Kutai Kartanegara (Kukar)
- Gerindra: Aulia Rahman Basri
- PDI Perjuangan: Rendi Solihin
Berau
- PKS: Sri Juniarsih Mas
- PPP: Gamalis
Bontang
- Golkar: Neni Moerniaeni
- Gerindra: Agus Haris
Kutai Timur (Kutim)
- PKS: Ardiansyah Sulaiman
- Perindo: Mahyunadi
Kutai Barat (Kubar)
- PDI Perjuangan: Frederick Edwin
- PDI Perjuangan: Nanang Adriani
Mahakam Ulu
- Gerindra: Angela Idang Belawan
- PKB: Suhuk
Penajam Paser Utara
- Gerindra: Mudyat Noor
- Gerindra: Abdul Waris Muin
Paser
- PKB: Fahmi Fadli
- Golkar: Ikhwan Antasari
Ringkasan Berdasarkan Jumlah
1. Gerindra – 8 Kader
2. Golkar – 3 Kader
3. PDI Perjuangan – 3 Kader
4. PKB – 2 Kader
Dengan 8 kader yang menempati posisi kepala daerah, Gerindra menjadi satu-satunya partai di Kaltim yang menembus angka lima kepala daerah, mencakup wali kota, wakil wali kota, bupati, dan wakil bupati.
Dominasi Gerindra di Kaltim menunjukkan strategi partai yang berhasil menempatkan kader di posisi eksekutif daerah.
Hal ini memberi partai keunggulan signifikan dalam pengaruh politik lokal, serta potensi untuk menguatkan suara di tingkat provinsi maupun nasional.
Sementara itu, Golkar dan PDI Perjuangan masing-masing menempatkan 3 kader, dan PKB memiliki 2 kader, menandakan posisi mereka lebih terbatas dibanding Gerindra.
Jika isu masuknya tokoh-tokoh baru ke struktur Gerindra benar, dominasi partai ini bisa makin kuat, khususnya di level kepala daerah yang strategis. (pra/art)




