ARUSBAWAH.CO - Di usia yang masih belia, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) terus bergulat dengan tantangan klasik wilayah pedalaman: akses dan keterhubungan.
Pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-12 Mahulu, 14 Desember 2025, pesan tentang kolaborasi dan percepatan pembangunan kembali mengemuka.
Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur, Ekti Imanuel, menegaskan pentingnya sinergi berkelanjutan antara Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, terutama dalam membuka isolasi wilayah melalui pembangunan infrastruktur jalan.
Menurut Ekti, pembangunan Mahulu tidak bisa berdiri sendiri.
Dukungan lintas pemerintahan menjadi kunci agar masyarakat di wilayah hulu Mahakam dapat menikmati akses yang setara dengan daerah lain di Kaltim.
“Kolaborasi antara Pemkab Mahulu dan Pemprov Kaltim harus terus disimpul dan diperkuat. Infrastruktur adalah pintu masuk bagi pelayanan dasar dan pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ujar Ekti.

Jalan Kubar–Mahulu Jadi Simbol Awal Sinergi
Salah satu proyek strategis yang disebut Ekti jadi pelopor untuk terus terbangunnya infrastruktur di sana adalah pembangunan jalan penghubung Kutai Barat (Kubar)–Mahakam Ulu, yang selama ini dinanti masyarakat.
Jalan ini dinilai bukan sekadar proyek fisik, tetapi simbol kehadiran negara di wilayah perbatasan dan pedalaman.
Ekti menyebut, proyek tersebut diharapkan menjadi awal dari kesinambungan pembangunan infrastruktur di Mahulu pada tahun-tahun mendatang.
“Jalan ini harus menjadi awal dari sinergi yang berkelanjutan. Kalau akses terbuka, maka pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat akan ikut bergerak,” katanya.
Sebagai legislator di tingkat provinsi, Ekti juga menegaskan komitmennya untuk terus mengawal dan menjadi bagian dari kolaborasi tersebut.
“Saya tidak ragu untuk menjadi kolaborator yang baik. Selama itu untuk percepatan akses dan kesejahteraan masyarakat Mahulu, DPRD Kaltim siap mengawal,” tegasnya.
Rp206 Miliar untuk Jalan Tering–Ujoh Bilang
Pada tahun 2025, Pemprov Kalimantan Timur mengalokasikan anggaran sekitar Rp206 miliar untuk pembangunan jalan Tering–Ujoh Bilang, jalur utama yang menghubungkan Kutai Barat dengan Mahakam Ulu.
Berdasarkan data SIRUP DPUPR Kaltim, proyek ini terbagi ke dalam empat paket pekerjaan dengan nilai anggaran berbeda, yakni:
Pembangunan Jalan Tering–Ujoh Bilang 1
Rp53.445.600.000
Pembangunan Jalan Tering–Ujoh Bilang 2
Rp53.445.600.000
Pembangunan Jalan Tering–Ujoh Bilang 3 (Pergeseran)
Rp48.989.692.081
Pembangunan Jalan Tering–Ujoh Bilang 4 (Pergeseran)
Rp51.273.360.000

Selain itu, terdapat pula pengadaan jembatan pada ruas Ujoh Bilang–Long Bagun–Long Pahangai dengan pagu anggaran Rp12.731.000.000.
Bagi Mahulu, proyek ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan harapan panjang masyarakat yang selama bertahun-tahun bergantung pada jalur sungai sebagai satu-satunya akses transportasi.
Mahakam Ulu, Kabupaten Muda di Hulu Mahakam
Kabupaten Mahakam Ulu resmi berdiri pada 14 Desember 2012, hasil pemekaran dari Kabupaten Kutai Barat.
Dengan demikian, HUT Mahulu diperingati setiap 14 Desember, dan pada 2025 ini genap berusia 12 tahun.
Mahulu memiliki luas wilayah sekitar 18.427,81 kilometer persegi, menjadikannya salah satu kabupaten terluas di Kalimantan Timur. Ibu kota kabupaten ini berada di Ujoh Bilang, sebuah kawasan yang menjadi pusat pemerintahan dan aktivitas masyarakat.
Secara geografis, Mahakam Ulu terletak di hulu Sungai Mahakam, dengan karakter wilayah pedalaman dan perbatasan negara.
Di utara, Mahulu berbatasan langsung dengan Malaysia (Sarawak) dan Kabupaten Malinau (Kaltara), sementara wilayah lainnya berbatasan dengan Kutai Kartanegara, Kutai Barat, Murung Raya, dan Kapuas Hulu.
Penduduk, Budaya, dan Tantangan Akses
Dengan jumlah penduduk sekitar 39 ribu jiwa, kepadatan Mahulu tergolong sangat rendah.
Mayoritas masyarakatnya berasal dari suku Dayak, seperti Kenyah, Kayan, dan Bahau, yang telah hidup turun-temurun di sepanjang aliran sungai.
Sungai Mahakam hingga kini masih menjadi urat nadi kehidupan, baik sebagai jalur transportasi, sumber ekonomi, maupun ruang sosial masyarakat. Di sisi lain, kondisi ini juga mencerminkan keterbatasan infrastruktur darat yang masih menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah.
Akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga distribusi logistik masih menghadapi tantangan serius akibat faktor geografis dan keterisolasian wilayah.
Infrastruktur sebagai Kunci Masa Depan Mahulu

Di usia ke-12, Mahakam Ulu berada di titik krusial. Pembangunan infrastruktur bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan prasyarat agar daerah perbatasan ini tidak terus tertinggal.
Pesan Ekti Imanuel pada HUT Mahulu tahun ini menjadi pengingat bahwa pembangunan Mahulu adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya Pemkab, tetapi juga Pemprov dan seluruh pemangku kepentingan.
Dengan kolaborasi yang konsisten, Mahulu diharapkan tidak lagi identik dengan keterisolasian, melainkan tumbuh sebagai wilayah hulu yang berdaulat, terhubung, dan sejahtera. (sobizz/pra)




