Arus Publik

Konten Peduli Satwa

Habitat Hancur, Orangutan Kurus di Kaltim Jadi Viral Lagi, Ini Cerita di Baliknya

Mauliyan dan Ariandi di Tengah Kepungan Tambang Batu Bara

Rabu, 27 Mei 2026 18:18

Dalam video yang pertama kali beredar pada September 2023 itu, kondisi induk orangutan terlihat sangat memprihatinkan. Tubuhnya kurus kering, rambut banyak rontok, dan tampak kesulitan bergerak sambil membawa anaknya/ Foto: BKSDA Kaltim

ARUSBAWAH.CO -  Video seekor induk orangutan bersama bayinya yang berjalan lemas melintasi jalan hauling tambang batu bara di Kalimantan Timur kembali viral dan menyita perhatian publik dunia.

Dalam video yang pertama kali beredar pada September 2023 itu, kondisi induk orangutan terlihat sangat memprihatinkan.

Tubuhnya kurus kering, rambut banyak rontok, dan tampak kesulitan bergerak sambil membawa anaknya.

Belakangan diketahui, induk orangutan tersebut bernama Mauliyan, sementara bayinya bernama Ariandi.

Keduanya ditemukan di kawasan perbatasan konsesi tambang batu bara milik PT G**** A*** M***** dan PT I******, tepatnya di Kecamatan Kaubun, Kabupaten Kutai Timur.

Kawasan tersebut merupakan bagian dari lanskap Karaitan, habitat penting orangutan di Kalimantan Timur yang kini terus terfragmentasi akibat aktivitas tambang, perkebunan sawit, dan Hutan Tanaman Industri (HTI).

Habitat Orangutan Terpecah Jadi “Pulau-Pulau” Kecil

Berdasarkan penelusuran Jaringan Penulis Alam (JPA), PT G**** A*** M***** memiliki izin konsesi tambang seluas sekitar 10.600 hektare.

Sementara PT I****** mengelola area tambang mencapai 25 ribu hektare.

Dua perusahaan itu aktif beroperasi di kawasan meta populasi orangutan yang mencakup Kecamatan Bengalon, Kaubun, dan Kaliorang.

Di wilayah tersebut, habitat orangutan kini terpecah menjadi kantong-kantong hutan kecil yang tidak lagi saling terhubung.

Kondisi itu membuat satwa endemik Pulau Borneo semakin sulit mencari sumber makanan alami dan terpaksa keluar menuju area terbuka, termasuk jalan hauling tambang.

Proses Evakuasi Dramatis Mauliyan dan Ariandi

Manager pusat rehabilitasi orangutan COP, Widi Nursanti, mengatakan tim rescue menemukan keduanya di kawasan hutan yang telah beralih fungsi menjadi area pertambangan/ BKSDA Kaltim

 

Pada 25 September 2023, tim rescue dari Centre for Orangutan Protection (COP) bersama mitra konservasi akhirnya berhasil mengevakuasi Mauliyan dan Ariandi.

Manager pusat rehabilitasi orangutan COP, Widi Nursanti, mengatakan tim rescue menemukan keduanya di kawasan hutan yang telah beralih fungsi menjadi area pertambangan.

“Tim rescue kami menemukan Mauliyan dan anaknya Ariandi di kawasan hutan yang beralih fungsi menjadi pertambangan dan kondisinya saat itu cukup memprihatinkan,” ujarnya.

Tim rescue bahkan harus menginap di bawah pohon tempat Mauliyan tidur demi membatasi pergerakan induk dan anak orangutan tersebut agar proses evakuasi bisa dilakukan lebih aman.

Pagi hari sebelum matahari terbit, tim mulai melakukan pembiusan menggunakan senapan bius khusus.

Namun proses itu tidak mudah. Tiga kali tembakan bius meleset karena kondisi tubuh Mauliyan yang sangat kurus menyulitkan tim menentukan titik aman pembiusan.

Setelah tembakan keempat berhasil mengenai tubuh Mauliyan, induk orangutan itu panik dan bergerak tidak terkendali di atas pohon.

Dalam situasi tersebut, Ariandi sempat terlepas dari pelukan induknya sebelum akhirnya berhasil diamankan tim rescue.

“Melihat bayinya digendong tim rescue, Mauliyan yang setengah terbius mulai turun dari pohon,” ungkap Widi.

Kondisi Mauliyan Sangat Memprihatinkan

Saat dievakuasi, Mauliyan yang diperkirakan berusia 17 tahun mengalami malnutrisi berat dengan Body Condition Score (BCS) hanya 1,5 dari skala maksimal 5.

Tubuhnya tinggal tulang, mata cekung, kulit mengelupas, dan sebagian besar rambut di tubuhnya hilang.

Bahkan saat diperiksa, air susu yang diproduksi Mauliyan sangat sedikit meski ia masih aktif menyusui Ariandi yang diperkirakan berusia tiga tahun.

“Dia mengalami dehidrasi dan kondisi tulang terlihat jelas. Kulitnya sangat kering dan dia masih memiliki anak yang perlu dirawat,” kata Widi.

Kondisi Mauliyan sempat memburuk beberapa hari setelah tiba di pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) di Kabupaten Berau.

Ia mengalami hipoglikemia atau kadar gula darah rendah hingga pingsan akibat malnutrisi dan kondisi menyusui.

Paramedis COP, Miftachul Hanifah, mengatakan Mauliyan sempat tidak sadarkan diri dari pagi hingga siang hari.

“Tim medis melakukan terapi cairan dan pemberian minum ditambah madu dan gula. Syukur pada sore hari Mauliyan sudah siuman dan kembali mau makan,” ujarnya.

Mauliyan Naik 14 Kilogram Setelah Dirawat Intensif

Selama menjalani rehabilitasi, Mauliyan mendapat porsi makanan dua kali lebih besar dibanding orangutan lain.

Ia juga diberikan tambahan alpukat, susu kedelai, cairan elektrolit, vitamin, serta suplemen khusus untuk memulihkan kondisi tubuhnya.

Kulit keringnya ditangani menggunakan coconut oil yang dicampurkan ke makanan.

Hasilnya, kondisi Mauliyan perlahan membaik.

Pada Desember 2023, berat badannya naik dari 19 kilogram menjadi 27 kilogram.

Kemudian pada Maret 2024, berat badannya kembali meningkat hingga mencapai 34 kilogram atau bertambah sekitar 14 kilogram sejak pertama dievakuasi.

Sementara Ariandi tetap berada satu kandang bersama induknya dan menunjukkan kondisi fisik yang relatif stabil.

Orangutan Ini Ternyata Masih Sangat Liar

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur, M Ari Wibawanto, mengatakan Mauliyan dan Ariandi sebenarnya tidak mengalami masalah perilaku liar/ BKSDA Kaltim

 

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur, M Ari Wibawanto, mengatakan Mauliyan dan Ariandi sebenarnya tidak mengalami masalah perilaku liar.

Menurutnya, yang dibutuhkan hanyalah pemulihan kesehatan akibat malnutrisi.

“Perilakunya menurut kami masih liar. Jadi tidak perlu rehabilitasi perilaku, tetapi rehabilitasi untuk meningkatkan kesehatan,” katanya.

Karena insting liar keduanya masih sangat baik, proses rehabilitasi tidak memerlukan waktu lama.

Pada Maret 2024, Mauliyan dan Ariandi akhirnya dilepasliarkan kembali ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat di Kecamatan Busang, Kutai Timur.

“Ketika dilepasliarkan, Mauliyan bersama anaknya langsung memeluk pohon dan naik bersama-sama,” ujar Widi.

Viral Lagi, Publik Soroti Dampak Tambang terhadap Habitat Orangutan

Kondisi orangutan yang terpotret kurus/ BKSDA Kaltim

 

Viralnya kembali video Mauliyan dan Ariandi membuat perhatian publik internasional kembali tertuju pada ancaman kerusakan habitat orangutan di Kalimantan.

Di tengah masifnya ekspansi tambang dan pembukaan lahan, habitat alami orangutan terus menyusut dan terpecah.

Kondisi itu membuat satwa liar semakin sering muncul di area industri hingga permukiman warga demi mencari makan dan bertahan hidup. (pra)

Konten diproduksi oleh Jurnalis Peduli Satwa di Kalimantan Timur. Berkolaborasi dengan Arusbawah.co 

 

Tag

MORE