Arus Daerah

Festival Erau Kukar

Erau 2025 Sudah Dibuka! Ini 5 Festival Serupa di Luar Negeri, Sama-Sama 'Main' Air

5 Festival Mirip Erau di Luar Negeri

Selasa, 23 September 2025 20:54

ERAU - Tradisi Belimbur dalam Festival Erau Adat Kesultanan Kutai Kartanegara (Kukar) Ing Martadipura (Foto: Youtube Kabupaten Kutai Kartanegara)

ARUSBAWAH.CO - Festival Erau Adat Kesultanan Kutai Kartanegara (Kukar) Ing Martadipura 2025 resmi dibuka dengan semarak di Stadion Rondong Demang, Minggu (21/9/2025) siang.

Sebagai agenda budaya tahunan yang menjadi kebanggaan warga Kukar, Erau hadir dengan tema “Menjaga Marwah Peradaban Nusantara”.

Acara pembukaan Erau berlangsung khidmat dengan kehadiran Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana.

Festival Erau ini akan berlangsung sejak tanggal 21 hingga 29 September 2025, yang ditutup dengan prosesi Belimbur yang kerap ditunggu masyarakat.

Belimbur adalah tradisi khas masyarakat Kutai di mana warga saling menyiramkan air sebagai bagian dari prosesi penutup Festival Erau.

Bersamaan dengan iring-iringan Keraton yang mengantarkan Naga Bini dan Naga Laki menuju Kutai Lama, berbagai ritual digelar di depan Keraton Kutai, mulai dari beumban, begorok, hingga rangga titi, sebelum akhirnya ditutup dengan belimbur.

Tradisi belimbur bukan sekadar ritual terakhir, melainkan juga menjadi puncak kemeriahan Erau.

Biasanya, suasana jalanan Kutai sore hari saat belimbur dipenuhi keceriaan masyarakat yang larut dalam siraman air dari segala penjuru, menciptakan momen penuh suka cita.

Selain sebagai ungkapan rasa syukur atas kelancaran jalannya festival Erau, tradisi belimbur ini dimaknai sebagai simbol penyucian diri dari sifat buruk dan energi negatif.

Air, yang dipercaya sebagai sumber kehidupan, diyakini mampu meluruhkan hal-hal yang tidak baik dalam diri manusia sehingga menghadirkan semangat baru bagi masyarakat.

Ternyata, tak hanya di Indonesia, ada pula festival semacam Erau di luar negeri, yang punya tradisi ‘bermain’ air layaknya belimbur.

Deretan Festival Mirip Erau di Luar Negeri, Sama-Sama Punya Tradisi ‘Main’ Air

1. Songkran (Thailand)

Songkran Festival (Foto: Dok. Sindhorn Midtown Hotel Bangkok)

Songkran adalah perayaan Tahun Baru Thailand yang jatuh pada pertengahan April.

Tradisi ini terkenal dengan perang air di jalanan, di mana orang saling menyiram menggunakan ember, pistol air, atau bahkan selang.

Awalnya, air dalam Songkran melambangkan pembersihan diri dari nasib buruk dan menyambut berkah di tahun baru.

Selain siram air, masyarakat juga melakukan ritual keagamaan, seperti berkunjung ke kuil, memandikan patung Buddha dengan air wangi, serta memberi penghormatan pada orang tua.

2. Thingyan (Myanmar)

Thingyan Festival (Foto: Dok. UNESCO)

Thingyan adalah nama Festival Tahun Baru Myanmar, yang dikenal sebagai perayaan air terbesar dan paling dinanti di negara tersebut.

Dalam tradisi lama, warga Myanmar membuat air wangi dari campuran bunga dan dedaunan, lalu meletakkannya di mangkuk atau guci di depan rumah.

Setiap hari, jenis daun dan bunga yang digunakan berbeda, melambangkan keberagaman makna penyucian.

Festival ini biasanya berlangsung selama empat hari pada pertengahan April, dimulai dengan Maha Thingyan, yakni Festival Air, ketika orang-orang saling menyiram untuk membersihkan dosa dan kesialan dari tahun sebelumnya.

Akar tradisi ini berasal dari praktik Buddhis kuno berupa memandikan patung Buddha saat pergantian tahun.

Setelah bermain air, masyarakat biasanya berjemur di bawah terik matahari sambil bercengkerama santai.

Ketika malam tiba, suasana kian hidup dengan dentuman musik, tarian, obrolan hangat, hingga permainan ramalan nasib.

Warga pun tampil ceria dengan pakaian warna-warni, lengkap dengan pistol air maupun ember untuk berpesta air bersama.

3. Pi Mai Lao (Laos)

Pi Mai Lao Festival (Foto: Dok. Kumparan)

Pi Mai Lao, atau Tahun Baru Laos, dirayakan setiap 13–15 April sekaligus ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Pada momen penuh sukacita ini, masyarakat Laos menyiapkan air bercampur bunga dalam wadah khusus, lalu menyiramkannya kepada siapa saja yang mereka jumpai sambil mengucapkan, “Souk Dee Pi Mai Der”, yang berarti “Selamat Tahun Baru”.

Mereka percaya, siraman air tersebut mampu membersihkan dosa dan kesalahan selama setahun terakhir, sekaligus membawa berkah untuk tahun yang baru.

Jadi, jangan heran apalagi marah kalau pakaianmu basah saat melewati perayaan ini ya!

Kemeriahan Pi Mai Lao semakin terasa dengan pakaian santai bercorak bunga atau buah berwarna cerah yang dikenakan masyarakat.

Perayaan ini juga memiliki sisi spiritual mendalam bagi umat Buddha.

Pada hari pertama, masyarakat membersihkan rumah mereka serta memandikan patung-patung Buddha di kuil, lalu patung-patung tersebut diletakkan di teras kuil lalu disiram air bunga sebagai simbol penyucian.

4. Holi (India & Nepal)

Holi Festival (Foto: ark21.com)

Holi, dikenal juga sebagai Festival Warna, merupakan perayaan Hindu yang paling riuh dan ditunggu-tunggu, bukan hanya di India tetapi juga di berbagai negara sekitarnya.

Tahun 2025 ini, Holika Dahan atau yang kerap disebut Choti Holi jatuh pada Kamis, 13 Maret, disusul puncak perayaan Holi pada Jumat, 14 Maret.

Rangkaian dimulai pada malam Holika Dahan, ketika masyarakat berkumpul menyalakan api unggun.

Api tersebut menjadi simbol kemenangan kebaikan atas kejahatan, sekaligus harapan akan keberkahan di tahun yang baru.

Keesokan harinya, saat Rangwali Holi, jalanan dan alun-alun dipenuhi warna-warni gulal (bubuk pewarna) yang beterbangan.

Orang-orang saling mengoleskan bubuk cerah ke wajah dan pakaian, menyemprotkan air berwarna dengan balon atau pistol air, lalu tertawa lepas dalam suasana penuh persaudaraan. 

Holi pun menjadi bukan sekadar festival, melainkan perayaan kebersamaan dan cinta kasih yang menyatukan semua kalangan.

5. Bon Om Touk atau Cambonian Water Festival (Kamboja)

Bon Om Touk atau Cambonian Water Festival (Foto: Dok. Tevoa)

Cambodian Water Festival atau Bon Om Touk biasanya berlangsung pada bulan November sebagai salah satu perayaan terbesar sekaligus paling meriah di Kamboja.

Hampir seluruh kota dan desa ikut ambil bagian dengan menghias perahu serta menggelar lomba balap di sungai.

Festival ini bukan sekadar pesta rakyat, tetapi juga momen penting yang menandai perubahan arus Sungai Mekong dan Sungai Tonle Sap.

Saat musim hujan, air dari Mekong mengalir deras menuju Danau Tonle Sap, membuat wilayah sekitar melimpah ikan dan tanahnya semakin subur.

Bon Om Touk sekaligus menjadi penanda berakhirnya musim hujan dan tibanya musim dingin di Kamboja.

Tak hanya punya makna alamiah, festival ini juga sarat nilai sejarah.

Sejak era Kekaisaran Angkor, masyarakat Khmer sudah menggelar lomba perahu sebagai bagian dari tradisi.

Bagi para raja, ajang ini bukan hanya hiburan, melainkan juga cara untuk menilai kemampuan prajurit angkatan laut dalam latihan sekaligus strategi bertempur.

Penutup

Itulah beberapa tradisi serupa Erau yang ada di berbagai negara.

Dari Erau di Kutai hingga Songkran di Thailand, dari Thingyan di Myanmar hingga Holi di India, setiap festival air ternyata punya napas yang sama, yakni untuk merayakan kehidupan, membersihkan diri, sekaligus mempererat kebersamaan.

Perbedaan bentuk perayaan justru memperkaya warna warisan budaya dunia, menunjukkan bahwa tradisi bisa jadi jembatan lintas bangsa.

Melalui festival-festival ini, kita diajak melihat bahwa air bukan sekadar unsur alam, melainkan juga simbol kesucian, keberkahan, dan harapan baru bagi manusia.

(apr)

Tag

MORE