ARUSBAWAH.CO - Mendatangkan sembako ke wilayah pedalaman Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) bukan perkara mudah.
Saat musim hujan, derasnya arus sungai membuat jalur transportasi air berisiko dilalui.
Ketika kemarau datang, persoalan tak lantas selesai. Debit air justru menyusut hingga kapal pengangkut tak lagi bisa melintas.
Kondisi yang berulang setiap tahun itu membuat distribusi logistik ke sejumlah wilayah pedalaman sering terhambat dan biaya pengangkutan melonjak.
Melihat persoalan tersebut, Wakil Ketua I DPRD Kaltim Ekti Imanuel mendorong pembangunan gudang logistik di Kecamatan Long Pahangai sebagai solusi agar pasokan sembako dapat disimpan sebelum memasuki musim yang menghambat distribusi.
Menurut Ekti, Mahulu memiliki tantangan geografis yang berbeda dibanding daerah lain di Kalimantan Timur.
Persoalan geografis dan sulitnya distribusi menjadi penyebab utama kebutuhan pokok di wilayah paling barat Kalimantan Timur itu selalu lebih mahal dibanding daerah lainnya.
"Mahulu itu setiap tahun menghadapi dua musim yang sama-sama menjadi persoalan. Musim hujan bermasalah, musim kemarau juga bermasalah," kata Ekti kepada Arusbawah.co, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, keberadaan gudang logistik akan membuat stok kebutuhan pokok tetap tersedia meski jalur distribusi terganggu.
"Yang kita inginkan ada gudang di Long Pahangai. Di situlah sembako disimpan, sehingga saat musim hujan maupun musim kemarau masyarakat tetap bisa mendapatkan kebutuhan pokok," ujarnya.
Jalur Sungai Terhambat, Jalur Darat Lebih Mahal
Ekti menjelaskan, distribusi logistik menuju Long Pahangai memiliki tantangan yang tidak ringan.
Dari Long Bagun menuju Long Pahangai, kapal harus melewati tiga riam besar, yakni Riam Udang, Riam Panjang, dan Riam Haloq.
"Dari Long Pahangai ke Long Apari sudah tidak ada riam lagi," kata legislator dapil Kubar-Mahulu ini.
Sementara saat musim kemarau, debit sungai turun drastis sehingga kapal pengangkut tidak dapat melintas.
Pilihan yang tersisa hanyalah jalur darat.
Namun akses jalan sepanjang sekitar 100 kilometer menuju Long Pahangai hingga kini masih belum memadai.
"Kalau musim kemarau air surut, kapal tidak bisa naik. Akhirnya harus lewat jalan darat sekitar 100 kilometer dari Long Bagun ke Long Pahangai, sementara kondisi jalannya masih belum memadai," kata Ekti.
Akibatnya, biaya distribusi menjadi sangat mahal.
"Satu mobil pikap jenis L200 hanya bisa membawa sekitar satu ton barang. Ongkos angkutnya bisa mencapai Rp7 juta sampai Rp8 juta," ungkap politikus Gerindra ini.
Menurutnya, tingginya ongkos distribusi itulah yang akhirnya dibebankan pada harga barang di tingkat masyarakat.
"Makanya harga sembako di sana selalu naik karena biaya pengangkutannya sangat tinggi," katanya.
Gudang Jadi Solusi Penyangga Logistik
Melihat kondisi tersebut, Ekti menilai pembangunan gudang logistik menjadi langkah paling realistis.
Dengan adanya gudang, sembako dapat dikirim lebih awal ketika jalur transportasi masih memungkinkan, kemudian disimpan sebagai stok saat musim hujan maupun musim kemarau menghambat distribusi.
"Di situlah sembako-sembako ditaruh. Jadi saat musim hujan bisa dipakai, musim panas juga bisa dipakai," jelasnya.
Ia mengatakan rencana tersebut telah dikomunikasikan dengan Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu.
"Sudah kita komunikasikan dengan Pemkab Mahakam Ulu," beber Ekti.
Menurutnya, pemerintah kabupaten juga mendukung pembangunan gudang tersebut karena akan membantu menjaga ketersediaan bahan pokok di wilayah pedalaman.
"Kalau pas musim hujan dan musim kering, provinsi pun membantu sembako, tetapi siapa yang mau mengangkutnya? Persoalannya memang ada di pengangkutan," ujarnya.
Ekti menyebut pembangunan gudang di Long Pahangai ditargetkan mulai direalisasikan tahun ini.
"Kalau tidak salah tahun ini mulai dibangun. Kita komunikasikan juga dengan Pemkab Mahulu," tutupnya.
(sobizz/raf)




