ARUSBAWAH.CO - Pagi itu, jari kelingking tangan kanan Ade Fahri Maulana masih tampak lecet.
Luka itu baru didapat beberapa saat sebelumnya, ketika ia menarik sling kereta gantung untuk menyeberangi sungai.
"Kalau yang ini kejepit sling tadi pagi," kata siswa kelas VI SDN 021 Marangkayu itu sambil memperlihatkan jarinya.
Peristiwa seperti itu bukan yang pertama bagi Ade.
Sejak duduk di bangku kelas I SD, ia sudah terbiasa menggunakan kereta gantung sederhana yang membentang di atas sungai di RT 9 Desa Santan Ulu, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Kereta itu tidak digerakkan mesin. Agar bergerak ke seberang, penumpangnya harus menarik sendiri tali sling dengan kedua tangan.
Bagi Ade dan delapan anak lainnya di kampung itu, perjalanan menuju sekolah memang dimulai dari sana.
Kereta gantung menjadi akses yang memangkas perjalanan dari sekitar tujuh hingga delapan kilometer menjadi hanya sekitar 350 meter. Tanpa itu, mereka harus memutar cukup jauh sebelum bisa sampai ke sekolah.
Jalur yang Dibangun Warga
Kereta gantung itu berdiri bukan karena proyek pemerintah.
Sekitar enam tahun lalu, warga berinisiatif membangunnya secara swadaya. Tidak adanya jembatan membuat mereka mencari cara agar aktivitas sehari-hari tetap berjalan.
Aceng Zainudin (48) masih mengingat proses pembangunannya.
Pemilik lahan mengeluarkan sekitar Rp12 juta untuk membangun dudukan kereta. Warga lain kemudian ikut membantu sesuai kemampuan. Ada yang menyumbangkan semen, pasir, maupun tenaga.
"Yang punya tanah ini membangun tempat keretanya sekitar Rp12 juta. Yang lain ikut bantu, ada yang kasih semen, pasir, macam-macam," ujar Aceng saat ditemui, Sabtu (18/7/2026).
Sejak itu, kereta gantung menjadi penghubung utama warga.
Bukan hanya anak-anak yang memanfaatkannya untuk pergi ke sekolah.
Orang dewasa juga menggunakannya untuk bekerja, berbelanja, hingga membawa kebutuhan sehari-hari.
Saat Sungai Berubah
Keberadaan kereta gantung memang memudahkan warga. Namun, kemudahan itu selalu dibarengi risiko.
Saat musim hujan datang, debit sungai meningkat dan arus menjadi lebih deras. Dalam kondisi seperti itu, kereta gantung pernah berhenti di tengah sungai karena tertahan arus.
Di dalamnya terdapat anak-anak yang hendak berangkat sekolah.
Warga yang melihat kejadian itu segera datang membantu hingga kereta akhirnya bisa bergerak kembali ke tepi.
"Kalau banjir kereta bisa berhenti di tengah karena menerjang air. Anak-anak sudah di tengah sungai. Airnya bisa selutut. Untung waktu itu banyak warga yang membantu," kata Aceng.
Sungai yang mereka seberangi juga dikenal sebagai habitat buaya.
Karena itu, ketika hujan turun dan air mulai meninggi, Ade memilih tidak berangkat ke sekolah.
"Kalau banjir saya tidak sekolah karena takut air besar dan keretanya berhenti di tengah. Pernah juga pas nyeberang diikuti buaya," ujarnya.
Harapan Memiliki Jembatan
Pengalaman yang lebih buruk pernah dialami Nurhayati, siswi kelas IX SMPN 6 Marangkayu.
Ia pernah tercebur ke sungai ketika kereta gantung berada di tengah penyeberangan. Saat itu ia hendak berbelanja sambil membawa jeriken.
Karena belum sempat berpegangan, tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Beruntung kakaknya yang berada di dekatnya langsung melompat untuk menyelamatkan.
"Saya belum sempat pegangan, terus jatuh. Kakak saya langsung lompat buat selamatin saya," kenangnya.
Peristiwa itu tidak membuat Nurhayati memiliki pilihan lain. Hingga kini ia masih menggunakan kereta gantung yang sama untuk beraktivitas.
Ia berharap suatu saat ada jembatan yang menghubungkan kampung mereka dengan jalan di seberang sungai.
"Sebenarnya takut lewat situ. Saya harap cepat ada jembatan. Jadi jalan ke mana-mana tidak perlu takut lagi," tuturnya. (Rafika Widyanasari)




