ARUSBAWAH.CO - Ketatnya persaingan usaha percetakan dan jasa kreatif di Kota Samarinda mendorong pelaku UMKM untuk berinovasi.
Five Media Samarinda memilih strategi berbeda: berinvestasi pada mesin produksi sendiri demi memperkuat daya saing.
Langkah tersebut diwujudkan melalui pembelian mesin laser cutting CO₂ dengan nilai investasi sekitar Rp30–32 juta.
Mesin ini menjadi tulang punggung baru Five Media dalam memperluas lini usaha, meningkatkan kontrol kualitas, sekaligus mempercepat layanan tertentu kepada konsumen.
Dari Undangan ke Mahar, Mesin Jadi Titik Balik Bisnis
Pemilik Five Media Samarinda, Daud, mengungkapkan bahwa keputusan membeli mesin laser cutting bukanlah langkah spontan.
Awalnya, Five Media hanya fokus pada produksi undangan, sementara pembuatan mahar masih diserahkan ke vendor lain.
Tak Ingin Bergantung Pihak Ketiga
Ketergantungan pada pihak luar, menurut Daud, sering menimbulkan kendala waktu produksi yang sulit dikendalikan.
“Kalau pakai vendor lain, kita tidak bisa kontrol kecepatan. Dari situ saya putuskan beli mesin sendiri,” ujar Daud, Senin (9/2/2026).
Mesin tersebut awalnya digunakan khusus untuk produksi mahar pernikahan.
Namun seiring waktu, fungsinya berkembang jauh lebih luas, mulai dari cutting dan grafir akrilik, pembuatan box akrilik, ornamen dekorasi, hingga berbagai produk custom lainnya.
Investasi Mesin, Bukan Sekadar Soal Kecepatan
Meski bukan satu-satunya di Samarinda, Daud menyebut jumlah pelaku usaha yang memiliki mesin laser cutting masih terbatas.
Mesin milik Five Media memiliki area kerja 40x60 sentimeter, yang dinilainya cukup untuk kebutuhan produksi skala UMKM.
Dikerjakan Sendiri, Tanpa Operator Khusus
Seluruh proses pengoperasian mesin dilakukan langsung oleh Daud.
Dengan latar belakang desain, ia menilai pengoperasian mesin relatif mudah.
“Kalau sudah punya basic desain, fokusnya tinggal di cutting dan grafir,” jelasnya.
Menariknya, keberadaan mesin ini bukan semata-mata untuk mempercepat semua pekerjaan.
Untuk produk undangan, proses tetap memakan waktu panjang karena melalui tahapan desain, cetak, lipat, hingga pengemasan.
Namun untuk mahar, mesin justru membuka layanan cepat, bahkan dalam hitungan jam.
Pola Konsumen Berubah, Paket Lengkap Jadi Andalan
Kehadiran mesin laser cutting turut mengubah pola belanja konsumen.
Jika sebelumnya pelanggan hanya memesan undangan, kini banyak yang memilih paket lengkap: undangan sekaligus mahar dalam satu tempat.
Menurut Daud, persaingan bisnis undangan sangat ketat. Mengandalkan satu produk saja dinilai sulit untuk bertahan.
“Kalau cuma main di satu produk, berat. Mesin ini bantu kami nambah lini usaha,” katanya.
Meski begitu, Daud menegaskan layanan cepat tetap bergantung pada kesiapan data dan pembayaran dari pelanggan.
Ia mengaku pernah mengalami pesanan yang sudah diproduksi dan dibayar, namun tidak pernah diambil.
Bertumbuh Pelan, Tanpa Utang
Ke depan, Five Media membuka peluang ekspansi ke percetakan spanduk dan layanan kreatif lainnya.
Namun Daud memilih bertumbuh secara bertahap tanpa mengambil risiko utang.
Selain mesin laser cutting, Five Media juga memiliki mesin potong figura untuk menunjang finishing produk, khususnya pada pembuatan mahar dan bingkai.
Mesin tersebut memastikan hasil lebih rapi dan presisi, sehingga produk siap dipajang tanpa proses tambahan di tempat lain.
“Kita jalan pelan-pelan saja. Ada untung, kita kembangkan lagi,” tutup Daud.
Dengan dua mesin utama tersebut, Five Media Samarinda perlahan bertransformasi dari sekadar jasa cetak menjadi usaha berbasis produksi mandiri, dengan kecepatan, fleksibilitas desain, dan kontrol kualitas sebagai senjata utama menghadapi ketatnya persaingan pasar. (sobizz/isa)
Artikel ini merupakan bagian dari Program Bina UMKM, sebuah inisiatif kolaboratif lintas media yang digagas oleh Avnmedia.id, Hvsmedia.id, Arusbawah.co, dan Megapolitik.com. Program ini bertujuan untuk mendorong pengembangan ekonomi lokal melalui publikasi strategis yang mengangkat suara, potensi, dan cerita sukses pelaku UMKM serta bisnis menengah agar lebih dikenal luas oleh publik dan pemangku kepentingan.




