"Aku sama sekali tak mengerti persoalan itu. Tak tahu sama sekali," ucap Denny Ruslan saat dihubungi redaksi Arusbawah.co via sambungan telepon WhatsApp pada Jumat (21/11/2025) siang.
ARUSBAWAH.CO - Nama Denny Ruslan, tiga hari belakangan ini menjadi perbincangan media sosial di Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim).
Sebab musababnya adalah postingan dari beberapa akun media sosial yang diduga mendiskreditkan dirinya.
Dipantau redaksi Arusbawah.co, postingan tersebut sehubungan dengan kabar terkait DS, serta adanya pencomotan gambar dirinya yang dimasukkan ke dalam isi postingan di media sosial.
Dikonfirmasi Arusbawah.co, Denny Ruslan menjawab bahwa dirinya sama sekali tak mengetahui soal gambar percakapan di postingan medsos tersebut.
"Apa itu gitu loh? Itu satu. Yang kedua, begitu aku dapat berita (kabar) itu, aku sudah langsung ke Polda kemarin. Sudah ditangani oleh Polda, di bagian cyber. Jadi biar saja lah, orang juga tak percaya kok. Tak ada yang percaya dengan kondisi itu," ucapnya mengawali cerita.
Kaget, Bingung, dan Langsung Bergerak ke Polda
Denny mengisahkan bahwa dirinya pertama kali mengetahui kabar itu pada Kamis siang, sekitar pukul 12.00 WITA, saat berada di Balikpapan.
Tanpa ada satu pun konfirmasi masuk, kabar itu justru sudah lebih dulu beredar luas di media sosial.
“Begitu aku dapat kabar itu, aku langsung ke Polda. Sudah ditangani bagian cyber,” jelasnya.
Sebelum melaporkan, Denny bahkan mencoba menghubungi nomor telepon yang tertera di salah satu akun media sosial yang memposting tuduhan tersebut. Namun usahanya tidak mendapat respons.
“Aku saja coba menelpon, tak ditanggapi. Apalagi mereka mau konfirmasi aku, kan aneh,” ucapnya.
Dua Akun Medsos Dilaporkan
Denny menegaskan bahwa ia telah melaporkan dua akun media sosial yang dianggap menyebarkan konten tanpa verifikasi.
"Dua (saya laporkan). Satu itu admin l****e k****m, yang kedua admin i***o_e**m. Bukan situs berita, semua itu akun Instagram dua-duanya. Kulihat gayanya nulis segala macam, tak sama sekali ada cover both side-nya itu. Harusnya kan mereka ada kode etik, menghubungi dulu, konfirmasi dulu kebenarannya seperti apa segala macam. Ini kan tak ada, jadi kuanggap ini abal-abal saja sih. Hanya sekedar medsos saja," jelas Denny Ruslan.
Ia lanjutkan, postingan yang beredar dengan mencomot fotonya tanpa pernah konfirmasi langsung serta digabung dengan frame tuduhan asusila, bukan lagi merupakan framing buruk, melainkan sudah menjurus fitnah.
"Ini bukan tuduhan. Laporanku bukan tuduhan. Ini fitnah sudah. Yang kulaporkan ini soal fitnah, pencemaran nama baik dan penyebaran berita bohong,".
"Sama sekali tak mengerti aku, kok bisa muncul itu. Kan di situ tak ada sebut nama, tak ada apa, tapi yang jelas kok ada foto saya gitu loh," jelasnya.
Munculnya foto hingga soal tak pernah melakukan konfirmasi inilah yang ia sangat sesalkan.
"Kenapa kok fotoku gitu loh. Kemungkinan, peristiwa itu bisa saja ada, cuma mungkin salah orang (bukan Denny Ruslan). Yang kukesalkan ini, kok fotoku ada di situ. Dikonfirmasi tidak, terus dari mana comot fotoku. Kan fotoku itu ada di berkas KPU," jelasnya.
Penjelasan Denny: “Itu Bukan Saya”
Arusbawah.co kemudian masuk soal isi postingan media sosial, di mana menampilkan percapakan vulgar orang dewasa.
Denny menampik percapakan itu berasal darinya.
"Ya tak mungkin lah. Terus kalau aku jawab bukan aku, kan pasti orang bilang ini bela diri. Jadi, susah juga. Makanya putusan akhir itu di polisi saja," katanya.
"Di sana, di gambar percakapan kan tak ada gambar profil saya. Makanya saya sesalkan foto saya kok ada di tampilkan. Foto saya ditampilkan vulgar. Kalau sampean tanya, ya bukan saya (sosok di percakapan WhatsApp yang muncul). Kalau saya menjawab bukan saya, orang pasti berpikir, ini pembelaan. Makanya saya ambil langkah untuk menyelesaikan secara hukum. Supaya tak ada tendensi ini pembelaan," jelasnya lagi.
Denny juga mengatakan alasannya melaporkan ke polisi, karena ia benar yakin, sosok pemilik percakapan di medsos itu bukan dirinya.
"Kalau itu benar terjadi, saya tak mungkin berani mau lapor polisi. Itu saja kuncinya," katanya.
"Oke lah misalnya karena sudab terlanjut keluar. Kode etik jurnalistik kan saya dapat hak yang sama, kesempatan yang sama untuk memberikan hak jawab. Tapi kan tak ada sama sekali. Kalau memang profesional harusnya seperti itu. Ada hak jawab, terus saya dikonfirmasi . Jadi ini melanggar etika jurnalistik, tapi susah sih karena mereka ini bukan termasuk jurnalistik," ucapnya.
Kecurigaan Motif dan Pesan Denny Soal Etika Medsos untuk Penyebaran Informasi
Ditanya soal apakah ada kemungkinan dirinya diserang usai aktifitasnya sebagai penggiat anti korupsi di Kukar, Denny hanya menjawab ringan.
"Ya semua orang tahu, saya kan aktivis anti korupsi. Pastilah mungkin ada beberapa pihak-pihak yang tidak happy akan statement-statement saya belakangan ini," jelasnya.
Di akhir, Denny Ruslan mengingatkan bahwa meskipun medsos bukanlah produk jurnalistik, ia meminta agar setiap penyebaran informasi, disertai dengan tanggung jawab.
"Pelaporan ini juga untuk menjadi pelajaran, agar meskipun medsos, tetap harus memperhatikan etika. Karena ini menyangkut nama baik seseorang., Silakan mengabarkan, tetapi minimal belajar lah untuk selalu coba konfirmasi dahulu sebelum publish untuk diperhatikan orang banyak. Saya ingatkan, ada tanggung jawab dalam pemberian informasi ke publik. Meskipun itu hanya medsos," pungkasnya. (pra)
- Seleksi KPID Kaltim Dianggap Sepihak, Ketua PKB Ancang-Ancang ke Pengadilan Sebut Suara Perempuan Jangan Dibungkam
- Cerita Syahariah Mas'ud: Dipukul Rotan Ortu hingga Sangu Uang Bengolan saat Sekolah
- Penjelasan Panitia Soal Biaya Pendaftaran Ketua KNPI Kaltim Rp50 Juta: Untuk Pelaksanaan Musda, Tidak Dikembalikan




