Arus Politik

Dari Jalanan ke Ruang Sidang, Sufyan Jufri Percaya Aktivis Tak Boleh Takut Masuk Politik

FOTO BERSAMA - Sufyan Jufri (kanan), anggota DPRD Balikpapan yang duduk di Komisi IV/ IG @sofyanjufripkb

ARUSBAWAH.CO -  Jauh sebelum duduk sebagai Anggota DPRD Balikpapan dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Sufyan Jufri lebih dulu dikenal sebagai aktivis, bahkan juga menekuni dunia jurnalistik.

Ia pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai bagian dari proses pengkaderannya di dunia kemahasiswaan.

Setelah itu, ia juga menjadi bagian dari Forum Kota (Forkot) Samarinda, sebuah organisasi yang aktif mengawal berbagai isu publik dan menjadi ruang pembelajaran politik bagi banyak anak muda di Kalimantan Timur.

Selain itu, perjalanan hidup juga membawanya menekuni dunia jurnalistik di salah satu harian surat kabar di Kalimantan Timur.

Pengalaman tersebut, menurut Sufyan Jufri, membentuk cara pandangnya hingga hari ini.

Baginya, aktivisme dan jurnalistik bukan sekadar tentang turun ke jalan menyampaikan tuntutan, melainkan proses panjang memahami persoalan masyarakat secara langsung.

"Di dunia aktivis, kita belajar mendengar warga, mengorganisasi gerakan, berdiskusi, sampai mengawal kebijakan. Itu semua menjadi bekal yang sangat berharga ketika masuk ke parlemen," ujarnya saat berbincang dengan Arusbawah.co di Samarinda beberapa waktu lalu. 

Sofyan: Ruang Perjuangan Berubah, Tapi Tujuannya Tetap Sama

Bagi Sufyan Jufri, pengalaman sebagai aktivis justru menjadi modal penting bagi seorang legislator.

Mereka yang pernah berada di tengah masyarakat umumnya memiliki kepekaan lebih tinggi terhadap persoalan publik karena terbiasa melihat langsung dampak sebuah kebijakan.

Ia meyakini, ruang perjuangan seorang aktivis tidak berhenti di jalanan. Ketika memasuki parlemen, yang berubah hanyalah instrumennya.

"Kalau dulu menyampaikan aspirasi melalui aksi dan advokasi, sekarang perjuangannya lewat pembentukan perda, pembahasan anggaran, dan fungsi pengawasan. Tujuannya tetap sama, memperjuangkan kepentingan masyarakat," katanya.

Pandangan itu juga menjadi alasan mengapa belakangan ini Sofyan bersama PKB mulai aktif berdialog dengan kalangan aktivis muda di berbagai kesempatan.

Dalam forum kepemudaan, diskusi organisasi, hingga pertemuan komunitas, ia kerap mengajak mereka untuk tidak alergi terhadap politik praktis.

Menurutnya, masih banyak anak muda yang memiliki idealisme tinggi, tetapi enggan masuk ke dunia politik karena menganggap parlemen identik dengan kompromi kepentingan.

Padahal, kata Sufyan Jufri, perubahan tidak cukup hanya dilakukan dari luar sistem.

Ajak Aktivis Muda Berani Masuk Politik, Sofyan: Jangan Takut Berjuang di Ruang Negara

Demokrasi, menurut Sufyan Jufri, membutuhkan orang-orang yang pernah ditempa dalam gerakan sosial untuk hadir di ruang-ruang pengambilan keputusan.

"Saya sering menyampaikan kepada adik-adik aktivis, jangan takut berjuang di ruang negara. Jangan merasa kalau masuk politik berarti meninggalkan idealisme. Justru kalau orang-orang baik tidak mau masuk, lalu siapa yang akan membuat kebijakan?" ujarnya.

Pesan itu bukan ajakan meninggalkan gerakan masyarakat sipil.

Sebaliknya, Sufyan memandang aktivisme dan parlemen sebagai dua ruang yang saling melengkapi.

Jalanan tetap diperlukan untuk mengontrol kekuasaan, sementara lembaga legislatif menjadi tempat mengubah aspirasi menjadi kebijakan yang mengikat.

Bagi Sufyan Jufri, perjalanan dari aktivis menuju anggota DPRD bukanlah perpindahan arah perjuangan, melainkan perubahan ruang untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Mantan aktivis PMII dan Forum Kota (Forkot) Samarinda itu meyakini pengalaman mendampingi warga, mengawal kebijakan, hingga menyuarakan aspirasi di jalanan menjadi bekal penting saat menjalankan fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan di parlemen.

"Kalau dulu kita menyampaikan aspirasi dari luar gedung dewan, sekarang kita memperjuangkannya dari dalam ruang sidang. Tujuannya tetap sama, berpihak kepada masyarakat," ujarnya.

Menurut Sufyan, anggapan bahwa aktivis akan kehilangan idealisme setelah masuk ke dunia politik tidak selalu benar.

Justru, kata dia, parlemen membutuhkan lebih banyak figur yang lahir dari gerakan masyarakat karena mereka telah terbiasa memahami persoalan publik secara langsung.

"Banyak contoh di Kalimantan. Teman-teman yang dulu sama-sama berangkat dari dunia aktivis, setelah menjadi anggota dewan tetap menjaga integritas dan kedekatan dengan masyarakat. Artinya, masuk ke parlemen bukan berarti meninggalkan idealisme. Justru idealisme itu bisa diperjuangkan melalui kebijakan," kata Sufyan. (sobizz/red)

 

Tag

MORE