ARUSBAWAH.CO - Nama Dinnuhoni Trahutomo atau yang akrab disapa Dino kini jadi buah bibir di kampus Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda.
Mahasiswa semester 7 Program Studi Sistem Informasi Fakultas Teknik itu baru saja menorehkan prestasi membanggakan di ajang internasional.
Ia dan timnya berhasil meraih The 1st Best Project Innovation dan The 1st Best Project Presentation dalam ajang International Youth Innovation Summit (IYIS) 2025 Chapter 15 di Malaysia.
Dino lahir dan besar di Samarinda.
Anak muda biasa yang iseng membuka TikTok, lalu berakhir di panggung inovasi internasional.
Dari iseng, lahirlah ide yang bisa menjembatani dunia pendidikan Indonesia dari kota sampai pelosok.
Dari Scroll TikTok ke Panggung Inovasi Dunia
Namun di balik pencapaian itu, ada kisah yang bermula dari kebosanan.
“Waktu itu iseng scroll TikTok, lewat iklan lomba Innovation Summit ke tiga negara. Saya tertarik karena ada yang fully funded. Dua hari sebelum penutupan, saya langsung daftar,” kata Dino saat berbincang dengan Arusbawah.co pada Rabu, (15/10/2025).
Ia mengisi seluruh persyaratan berkas dengan tergesa, menulis esai, dan mengirim dokumen.
Tapi dari ratusan pendaftar, Dino lolos tahap pertama. Lalu lanjut ke tahap Focus Group Discussion (FGD) bersama 40 peserta lain.
“Waktu FGD saya enggak terlalu menonjol, tapi syukurlah tetap lolos kategori special funded. Jadi masih harus bayar sedikit, tapi bisa berangkat,” ujarnya.
Persiapan yang dilakukannya dalam waktu sempit, hanya satu bulan.
Dino bergabung dalam kelompok beranggotakan lima orang lintas kampus dan jenjang yakni Jessica dari Universitas Indonesia, Azizah dari Universitas Hasanuddin, Nabila dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Alfa dari SMA Sains Wahid, dan dirinya sendiri dari Unmul.
“Kelompok saya lengkap, tapi sempat juga ada yang hampir walk out karena bentrok kegiatan OSCE. Untungnya kami bisa rampung semua,” ucapnya.
Aplikasi Novastro: Inovasi Pendidikan untuk Daerah 3T
Tim ini kemudian melahirkan ide bernama “Novastro” aplikasi berbasis pendidikan untuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Konsepnya sederhana yakni menggabungkan berbagai platform populer seperti Ruangguru, Quizziz, dan Coursera, dengan tambahan fitur unik berupa Nova Room ruang digital tempat masyarakat bisa mengunggah masalah pendidikan di wilayah mereka untuk diverifikasi dan didanai bersama.
Menurut Dino, fokus ke wilayah 3T adalah suatu keharusan.
Ia menilai, banyak inovasi di bidang pendidikan yang terlalu Jakarta-sentris, tidak melihat realitas di daerah tertinggal.
“Kita mau buat yang sesuai kebutuhan Indonesia. Di kota besar, anak-anak sudah belajar pakai laptop, tapi di Papua atau pedalaman Sumatera, masih banyak yang pakai buku lusuh dan belum tentu ada listrik,” ujarnya pelan.
Inovasi ini juga selaras dengan prinsip Sustainable Development Goals (SDGs), terutama di bidang pendidikan (SDG 4), pemerataan (SDG 10), inovasi (SDG 9), dan kemitraan (SDG 17).
“Kalau inovasi terlalu jauh dari realitas sosial, justru enggak akan bisa dipakai. Makanya kami bikin Novastro yang bisa diakses offline, karena di banyak daerah 3T jaringan internetnya nyala cuma di jam sekolah,” jelasnya.
- Cerita Syarli Baizura, Gadis Samarinda yang Pernah ke Disneyland Hongkong Karena Juara, Kini Jadi Juara 1 Lagi Kaligrafi Nasional
- Hadir di Dies Natalis ke-63, Rektor Unmul Ucap Syukur Dapat Hibah Rp 127 Miliar dari Pemprov! Kejar Dana IsDB untuk Bangun RS
- Jumlah Guru Besar Unmul Tembus 93 Orang, 18 Dilantik Sekaligus – Ada yang Termuda!
Inovasi Offline dan Desain Interaktif
Novastro belum sepenuhnya jadi aplikasi publik. Saat ini, proyek itu masih berupa mock-up interaktif yang dibuat melalui Figma.
Meski belum rilis, fitur-fitur yang mereka rancang tergolong kompleks yakni antarmuka pembelajaran interaktif, AI-based quiz, forum donasi berbasis proyek pendidikan, serta sistem verifikasi lokal.
“Kami buat UI/UX-nya lengkap, mulai dari sign up, login, fitur pembelajaran, sampai forum pendanaan. QR code kami bagikan ke juri supaya bisa lihat versi interaktifnya,” kata Dino.
Keterbatasan waktu menjadi kendala utama. Persiapan hanya satu bulan, sementara inovasi ini dirancang layaknya aplikasi besar.
“Yang kami tampilkan di Malaysia masih versi awal. Tapi setidaknya bisa menunjukkan bahwa kami punya konsep dan arah pengembangan yang jelas,” tambahnya.
Rencana Pengembangan dan Kolaborasi Pemerintah
Meski masih tahap konsep, tim Novastro sudah memikirkan keberlanjutan.
Mereka berencana menggandeng pemerintah dan sponsor untuk mengembangkan versi beta.
“Kalau nanti bisa dipatenkan, kami ingin bekerja sama dengan pemerintah supaya biayanya lebih ringan. Karena dari hitungan RAB kasar, biaya pengembangan besar banget. Ada AI, server, konten video, sampai keamanan data,” ujarnya.
Selain itu, timnya juga membuka kemungkinan pendanaan lewat subscription seperti Spotify atau Duolingo, di mana pengguna bisa berlangganan fitur premium untuk membantu biaya operasional dan pengembangan konten.
Untuk saat ini, Dino mengaku belum ada pengeluaran besar karena masih tahap konsep.
“Belum ada biaya real. Tapi kalau dijalankan, pasti besar banget. Mulai dari server, AI, sampai gaji tenaga pengajar dan tim verifikator,” ujarnya.
Juara Ganda dan Pesan Sosial di Balik Kemenangan
Dari total 27 peserta yang terbagi dalam delapan kelompok, hanya satu yang dinobatkan sebagai juara utama.
Tim Dino menempati posisi pertama di dua kategori sekaligus, Best Project Innovation dan Best Presentation.
“Kalau dari bidangnya sih mirip-mirip semua, cuma mungkin bedanya kami bikin aplikasi, bukan web. Aplikasi bisa tetap jalan meski offline. Itu yang bikin juri tertarik,” katanya.
Baginya, kemenangan ini bukan soal siapa paling pintar, tapi siapa paling peka terhadap kenyataan sosial.
“Inovasi enggak perlu canggih, tapi harus nyentuh. Harus bisa dipakai orang-orang yang enggak punya akses,” tegas Dino.
Kini, di tengah kesibukan menulis skripsi, Dino masih menyimpan keinginan besar untuk menjadikan Novastro bisa dirasakan masyarakat luas.
“Sebenarnya ikut lomba ini karena bosan aja di rumah. Tapi ternyata malah dapat pengalaman yang ngubah cara saya lihat pendidikan,” pungkasnya.
(wan/sobiss)




