ARUSBAWAH.CO - Kelanjutan dari kisah Sam, orang utan jantan yang viral karena mengais sampah di tepi Jalur Perdau, Bengalon, membawa perhatian pada satu hal yang lebih besar: rusaknya habitat orang utan di kawasan meta-populasinya.
Peristiwa ini bukan sekadar tentang satwa mencari makanan manusia, tapi alarm bagi manusia tentang degradasi lingkungan dan fragmentasi hutan yang semakin parah.
Hilangnya Habitat: Dampak Langsung pada Perilaku Orang Utan
Paulinus Kristanto, Founder dan Direktur CAN Borneo, menekankan bahwa peristiwa Sam adalah cerminan kondisi kritis habitat orang utan.
“Ini bukan soal orang utan mengais sampah semata. Hilangnya habitat merubah perilaku mereka. Orang utan berusaha bertahan hidup dengan apa pun yang bisa mereka temukan, termasuk sampah manusia. Habitat di sana terus menyusut, dan land clearing semakin mendekati jalan," ucapnya.
Hutan tersisa hanya di pinggir jalan, dan ketika tambang benar-benar mencapai jalur ini, tidak akan ada lagi tempat untuk orang utan bertahan. Satu-satunya opsi adalah memindahkan mereka ke hutan yang lebih aman," lanjut Paulinus Kristanto.
Perilaku Sam mengais sampah adalah sinyal jelas bahwa kondisi lingkungan sudah tidak mendukung kehidupan liar.
Orang utan yang sebelumnya bisa hidup mandiri di hutan, kini terpaksa menyesuaikan diri dengan lingkungan manusia untuk bertahan.
Upaya BKSDA Kaltim
Kepala BKSDA Kaltim, M. Ari Wibawanto, menjelaskan konteks lebih luas terkait habitat orang utan di Kutai Timur.
“Landscape orang utan di kawasan ini dibatasi oleh Sungai Kelay di utara dan Sungai Sangatta/Bengalon di selatan. Habitat alami mereka kini terfragmentasi akibat pembangunan ekonomi, seperti pertambangan dan perkebunan. Selama 2025 saja, 47 individu orang utan terpaksa diselamatkan karena tidak punya tempat lain untuk bertahan hidup. Mereka makan di pinggir jalan, mengais sampah—itulah kondisi yang memaksa kita melakukan rescue," katanya.
BKSDA bersama para pelaku usaha dan masyarakat setempat tengah merancang solusi agar orang utan dapat hidup berdampingan dengan manusia.
Salah satunya adalah menetapkan lokasi cadangan, membuat jalur migrasi alami, dan area perservasi di luar kawasan konservasi.
“Orang utan adalah spesies payung,” lanjut Ari. “Jika kita menjaga mereka, satwa lain seperti macan dahan, beruang, dan berbagai fauna juga ikut terlindungi. Area cadangan ini akan mirip kawasan konservasi—tetap dijaga, tidak digarap, dan memberikan ruang hidup aman bagi satwa liar," jelasnya.
Rescue Terus Berlanjut: Harapan untuk Populasi Orang Utan
Saat ini, BKSDA telah mengidentifikasi 12 individu yang harus diselamatkan segera, menunggu kondisi di lapangan memungkinkan translokasi.
Ari menegaskan bahwa upaya rescue dilakukan karena kita terpaksa menyelamatkan orang utan.
"Tujuan akhirnya tetap sama: memastikan mereka bisa kembali ke habitat aman dan mempertahankan sifat liarnya. Rescue bukan solusi utama, tapi langkah darurat menghadapi fragmentasi hutan dan ancaman manusia," kata Ari.
Kisah Sam dan teman-temannya menjadi pengingat bahwa setiap helai daun yang hilang, setiap hektar hutan yang tergarap, berdampak langsung pada kehidupan satwa liar.
Fragmentasi hutan bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga cerita kemanusiaan—bagaimana manusia dan satwa harus menemukan cara hidup berdampingan di dunia yang semakin sempit ini. (pra)
Konten diproduksi oleh Jurnalis Peduli Satwa di Kalimantan Timur. Berkolaborasi dengan Arusbawah.co




