Arus Publik

Konten Peduli Satwa

Cerita di Balik Peristiwa Orang Utan Mengais Sampah di Tepi Jalur Perdau Bengalon (Part 1)

Jumat, 6 Februari 2026 11:14

DITEMUKAN - Sam kemudian ditempatkan di kandang sementara dan menjalani proses translokasi ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kutai Timur, agar dapat kembali hidup di habitat alaminya/ HO to Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Beberapa waktu lalu, sebuah video singkat menyebar luas di media sosial.

Tampak seekor orang utan duduk di tumpukan sampah di tepi Jalur Perdau, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, mengais sisa makanan.

Wajahnya lelah, tubuhnya kurus, namun matanya tetap tajam—seolah ingin memahami dunia di sekelilingnya.

Video itu memicu perhatian publik, sekaligus rasa prihatin yang mendalam.

Lokasi itu bukan area hutan, melainkan tempat pembuangan sampah liar.

Masyarakat setempat membuang sampah di tepi jalan tanpa aturan, padahal jalur ini berada di tengah meta-populasi orang utan.

Hutan di sekitarnya telah terfragmentasi akibat aktivitas tambang batu bara, sehingga satwa ini terpaksa mencari makan di luar habitatnya.

Video Viral dan Kejadian di Tepi Jalan Bengalon

Peristiwa ini menjadi sorotan karena tidak hanya memperlihatkan orang utan mengais sampah, tetapi juga menggambarkan dampak fragmentasi hutan yang terus terjadi.

Meski terlihat “konyol” atau lucu bagi sebagian orang, kenyataannya Sam—sebutan untuk orang utan jantan dewasa itu—sedang menghadapi ancaman nyata: kehilangan sumber makanan alami dan berada dekat aktivitas manusia yang berisiko.

 

Upaya Penyelamatan Sam oleh BKSDA dan Conservation Action Network 

Menanggapi video viral, pada 27 Januari 2026, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim bekerja sama dengan Conservation Action Network (CAN) dan Center for Orangutan Protection (COP) segera bergerak.

Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) dikirim ke lokasi untuk mencari orang utan tersebut. Tak lama, Sam berhasil ditemukan tidak jauh dari tempat ia mengais sampah.

Kepala BKSDA Kaltim, M. Ari Wibawanto, menjelaskan soal proses saat Sam ditemukan. 

“Saat ditemukan, Sam berusia sekitar 18–20 tahun, kondisi sehat, tetapi berada di lokasi yang tidak selayaknya—di pinggir jalan, dekat kebun sawit dan area tambang. Kami memutuskan untuk segera mengembalikannya ke hutan, karena sifat liarnya perlu dipulihkan sebelum hilang sepenuhnya," jelasnya. 

Sam kemudian ditempatkan di kandang sementara dan menjalani proses translokasi ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kutai Timur, agar dapat kembali hidup di habitat alaminya.

PROSES PENYELAMATAN - Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) dikirim ke lokasi untuk mencari orang utan tersebut. Tak lama, Sam berhasil ditemukan tidak jauh dari tempat ia mengais sampah/ HO to Arusbawah.co

 

Ancaman Sampah dan Fragmentasi Hutan bagi Orang Utan

Sementara itu, Paulinus Kristanto, Founder dan Direktur CAN Borneo, menekankan bahwa hutan di sekitar lokasi sudah banyak yang hilang, sehingga orang utan terpaksa turun mencari makanan di tempat sampah.

"Ketika sampah habis, mereka bisa semakin dekat ke permukiman, mengenali bau makanan manusia, dan berisiko konflik dengan manusia," jelasnya. 

Fenomena ini menunjukkan bagaimana manusia dan perilaku sederhana seperti membuang sampah sembarangan dapat memengaruhi perilaku satwa liar.

Sebuah tumpukan sampah yang tampak sepele bagi manusia bisa menjadi satu-satunya sumber makanan bagi satwa yang kehilangan habitatnya.

Pesan Penting bagi Masyarakat

Cerita Sam menjadi pengingat bahwa menjaga kebersihan lingkungan bukan hanya soal estetika, tetapi juga menyangkut keselamatan satwa liar.

Dengan menyadari dampak dari fragmentasi hutan dan interaksi manusia, kita dapat mencegah konflik dengan satwa, sekaligus melindungi mereka tetap berada di habitat alami.

Sam adalah wajah dari dampak perubahan lingkungan—sebuah kisah yang menyentuh hati dan mengajak kita bertindak lebih bijak terhadap alam di sekitar kita. (pra)

Konten diproduksi oleh Jurnalis Peduli Satwa di Kalimantan Timur. Berkolaborasi dengan Arusbawah.co 

 

Tag

MORE