Arus Daerah

Konservasi Alam Kalimantan Timur

3 Kawasan Konservasi Pelestarian Alam Flora dan Fauna di Kalimantan Timur

Konservasi Pelestarian Alam di Kalimantan Timur

Senin, 11 Agustus 2025 22:38

KONSERVASI KALTIM - KWPLH Balikpapan dan Taman Nasional Kutai sebagai wilayah konservasi pelestarian alam di Kalimantan Timur (Foto: Dok. Taman Nasional Kutai dan KWPLH Balikpapan)

ARUSBAWAH.CO - Di tengah gempuran pembangunan dan alih fungsi lahan, Kalimantan Timur masih menyimpan beberapa benteng penting konservasi pelestarian alam.

Kawasan konservasi pelestarian alam tersebut  bukan hanya surga bagi beragam flora dan fauna langka, tetapi juga sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar.

Bahkan, kehadiran kawasan konservasi pelestarian alam yang semestinya berpotensi sebagai kekayaan di Bumi Etam ini justru malah turut menjadi saksi bisu tarik-menarik antara kelestarian alam dan kepentingan manusia.

Berikut ini beberapa kawasan konservasi pelestarian alam untuk beragam kekayaan flora dan fauna sekaligus tantangan di jantung Kalimantan Timur.

KWPLH Balikpapan

Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup atau KWPLH Balikpapan, yang lebih dikenal sebagai Pusat Beruang Madu, adalah destinasi edukasi alam yang berjarak sekitar 23 km di utara Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Perjalanan kisah KWPLH Balikpapan dimulai pada 2002, ketika beruang madu diresmikan sebagai maskot Balikpapan, terinspirasi dari penelitian perdana yang mengungkap kehidupan satwa langka ini di Hutan Lindung Sungai Wain, hutan tropis yang menjadi paru-paru kota.

Dua tahun kemudian, Pemerintah Kota bersama lembaga donor swasta dan para pakar margasatwa membangun pusat pendidikan beruang madu dengan enklosur alami seluas 1,3 hektar di KWPLH Balikpapan.

Enklosur KWPLH Balikpapan ini menjadi rumah bagi tujuh beruang madu yang tidak lagi dapat dilepaskan ke alam liar.

Diakui sebagai salah satu yang terbaik di Asia, KWPLH Balikpapan ini tak hanya menjaga kelestarian maskot Balikpapan, tetapi juga menarik puluhan ribu pengunjung, mencapai 70.000 wisatawan domestik dan mancanegara pada 2013, untuk melihat sang “penjaga hutan” di habitatnya yang menyerupai alam asli.

Hutan Lindung Sungai Wain

Dikenal dengan pesona alam dan kekayaan hayati yang luar biasa, Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) menjadi salah satu destinasi wisata minat khusus yang memadukan keindahan hutan dan pesona sungai.

Kawasan Hutan Lindung Sungai Wain ini mencakup sekitar 5.000 hektare hutan primer alami, sementara sisanya merupakan hutan sekunder, baik tua maupun muda, yang tumbuh kembali setelah kebakaran dan pembalakan liar.

Bagi masyarakat di sekitarnya, Hutan Lindung Sungai Wain bukan sekadar benteng ekologi, tetapi juga sumber kehidupan yang menopang ekonomi, sosial, dan budaya mereka.

Pemanfaatan Hutan Lindung Sungai Wain mencakup tiga aspek utama, yakni penggunaan kawasan, jasa lingkungan, dan hasil hutan bukan kayu (HHBK).

Di wilayah masyarakat maupun di area Hutan Lindung Sungai Wain (dari km 15 hingga perbatasan PT Inhutani I), HHBK yang dihasilkan antara lain aren penghasil gula merah, karet, bambu rebung, durian, lai, cempedak, dan beragam hasil alam lainnya.

Sejak 2011, pemerintah memberikan izin pengelolaan Hutan Kemasyarakatan seluas 1.400 hektare untuk budi daya tanaman, mulai dari karet, durian, rambutan, buah naga, hingga aneka sayuran di Hutan Lindung Sungai Wain.

Selain itu, warga juga memanfaatkan kekayaan Hutan Lindung Sungai Wain untuk kayu bakar, daun nipah, rotan, gaharu, tumbuhan obat, pakan ternak, madu hutan, buah-buahan, sayuran, dan hasil perairan, seperti ikan.

Taman Nasional Kutai

Taman Nasional Kutai (TNK) adalah satu-satunya taman nasional di Kalimantan Timur sekaligus representasi penting dari hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa di Borneo.

Kawasan Taman Nasional Kutai ini bukan sekadar bentang alam hijau, tetapi juga berperan vital sebagai penyangga cadangan air, gudang plasma nutfah, dan rumah bagi orangutan endemik Pongo pygmaeus morio,spesies langka yang kini berada di ambang kritis. 

Mengusung slogan "Discover the Secret of Borneo Lowland Rainforest", Taman Nasional Kutai memikat pengunjung dengan pesona alamnya yang memukau, membentang seluas 198.629 hektare meliputi sebagian besar Kabupaten Kutai Timur dan sedikit wilayah Kota Bontang, tempat kantor pengelola TNK berada.

Namun, sejak memasuki era 2000-an, tekanan terhadap kawasan Taman Nasional Kutai ini meningkat tajam.

Perambahan untuk permukiman dan perkebunan menggerus hutan asli sehingga luas hutan murni saat ini diyakini jauh berkurang dibandingkan pada akhir 1990-an.

Padahal, sejarah Taman Nasional Kutai bermula dari statusnya sebagai Hutan Persediaan seluas 2 juta hektare pada masa Pemerintah Hindia Belanda melalui SK Nomor 3843/AZ/1934.

Selanjutnya, pada 10 Juli 1936, Sultan Kutai mengubahnya menjadi Suaka Margasatwa Kutai dengan luas 306.000 hektare melalui Zelfbestuurs Besluit Nomor 80/22-ZB/1936.

Sejak awal berdirinya, Taman Nasional Kutai tak pernah benar-benar lepas dari konflik kepentingan.

Data menunjukkan, dalam rentang 63 tahun, dari 1934 hingga 1997, luas kawasan Taman Nasional Kutai terus menyusut drastis, meninggalkan jejak sejarah panjang perebutan ruang antara kelestarian dan eksploitasi.

Penutup

Itulah ketiga kawasan konservasi pelestarian alam di Kalimantan Timur.

KWPLH Balikpapan, Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW), dan Taman Nasional Kutai (TNK) bukan hanya surga bagi beragam flora dan fauna langka, tetapi juga sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar.

Tertarik mengunjungi kawasan konservasi pelestarian alam flora dan fauna di Kalimantan Timur? (apr)

Tag

MORE